Jumat, 07 Oktober 2011

Aku dan Kakekku


KUTUTUP buku ‘1001 Dongeng Sebelum Tidur’, dan menatap jam dinding di samping pintu kamarku. Waktu menunjukkan tepat pukul delapan malam. Sebenarnya buku itu terlalu kekanak-kanakan untuk anak berusia sepuluh tahun sepertiku. Dulu ketika aku berumur lima atau enam tahun, ibu yang mendongengkannya untukku sampai aku merasa bosan. Namun entah kenapa, sekarang aku ingin membacanya lagi. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Muncul sebuah kepala dengan rambut hitam keriting. Itu adalah ibuku.
”Sampai kapan kau akan membaca buku, Bunga?” tanya ibuku. Kemudian ia mematikan sakelar lampu. ”Ayo tidur. Besok kau harus bangun pagi,”
Aku menurut, dan langsung naik ke tempat tidurku yang empuk. Ibu membalutku dengan selimut tebal.
”Selamat tidur, Nak,” kata ibuku sambil berlalu dan menutup pintu kamar.
Akupun mencoba memejamkan mata, namun berkali-kali tidak bisa. Saat itu mataku rasanya ingin dibuka terus. Aku sudah susah payah memaksakan mataku untuk terpejam, tetapi sia-sia saja. Aku paling benci hal ini–tidak bisa tidur!
Aku menghela nafas, dan tak sengaja menatap sebuah kotak kecil di atas lemari. Itu adalah kotak musik. Kotak itu terlihat jelas sekali, karena disinari cahaya bulan dari jendela tinggi di sampingnya. Jendela polos itu tidak bertirai. Kata orang tuaku, aku tak boleh membuka kotak musik itu. Apa alasannya aku tidak tahu. Mereka selalu menakutiku, kalau di dalam kotak musik tersebut ada hantunya. Benarkah?
Akhirnya aku turun, lalu mengambil bangku dan kutaruh di depan lemari. Kemudian kutumpuk dengan beberapa bantal. Aku menaikinya, dan kuambil kotak musik itu.
Kotak itu sudah cukup tua dan berdebu. Kuberanikan diri untuk membukanya. Rasa penasaranku sudah tak bisa dihindari lagi. Ketika aku membukanya, terdengar sebuah melodi indah. Aku begitu mengenalnya, karena sering kumainkan saat bermain piano. Lagu itu berjudul ’Grandfather’s Clock’, diciptakan oleh H.C. Work.
Melodi itu benar-benar indah dan hangat, lebih indah dari yang kumainkan sendiri. Nada-nadanya terkesan sendu dan menyedihkan. Ah, aku jadi teringat dengan kakekku. Sebenarnya aku tidak pernah bertemu dengannya, karena ia meninggal bertepatan dengan hari kelahiranku. Namun ibu sering menceritakan padaku, kalau kakekku itu seorang penjual jam yang ramah dan baik hati. Ia meninggal di usia lima puluh tahun akibat kecelakaan. Kadang ibuku menceritakannya sambil menangis tersedu-sedu. Ibu tak sempat menengok kakek yang koma, karena sedang melahirkan aku. Padahal, sebelumnya kakek ingin sekali melihat cucunya sebelum meninggal. Namun sayang sekali, harapannya hanyalah sebuah angin. Akupun selalu merindukannya. Aku benar-benar ingin melihat wajahnya.
Setelah selesai, aku menutup kotak itu. Tetapi aku menangkap sesuatu yang aneh di dalamnya. Secarik kertas yang terlipat hingga kecil sekali. Aku mengambil dan membukanya. Di sana tertulis kata-kata yang tak kumengerti.
’Perhatikan jam biru di kamarmu’
Aku terheran-heran. Jam biru? Tulisan apa ini? Apakah ibuku yang menulisnya untuk sebuah kejutan? Setahuku aku tak punya jam berwarna biru. Yang ada di kamarku hanyalah jam dinding berwarna kuning, serta dua jam tangan berwarna hijau dan merah. Kucoba ingat-ingat lagi. Sebenarnya dulu aku punya jam weker berwarna biru muda. Namun karena rusak, ibuku menyimpannya entah di mana. Mungkin yang dimaksud adalah jam weker itu.
Aku langsung membuka lemari dan mengacak-ngacak semua bajuku. Di rak buku, meja belajar, di bawah tempat tidur, dan yang lainnya. Seluruh isi kamar sudah kujelajah, namun jam biru itu belum kutemukan juga.
Akhirnya, aku keluar dari kamar dan mengendap-endap masuk ke kamar orang tuaku. Ayah dan ibuku sedang menonton TV di ruang tengah. Setelah sampai, aku membongkar laci dan lemari yang ada di sana. Akhirnya kutemukan juga! Jam weker itu disimpan di laci. Setelah merapikan semuanya, aku kembali ke kamar, menyalakan lampu, dan memperhatikan jam weker tersebut lekat-lekat.
Di sana hanya tertulis merek jam weker itu. Mereknya ’WAREHOUSE CLOCK’. Kalau tidak salah, ’warehouse clock’ itu Bahasa Inggris-nya ’jam gudang’. Hmm... jangan-jangan aku harus ke gudang dan menemukan jam di sana?
* * *
”Whoaaa...Tikuuus..!” teriakku sambil meloncat ketakutan. Buru-buru kututup mulutku. Bahaya kalau ayah dan ibu mengetahui aku berada di sini. Di gudang bawah tanah yang gelap, sempit dan menyeramkan. Seumur hidup aku tak pernah mau masuk ke ruangan ini. Namun karena tulisan ’warehouse clock’ itu membuatku penasaran, akhirnya kupaksakan untuk datang ke sini dengan bantuan jaket dan senter. Aku diam-diam keluar lewat pintu depan, dan masuk ke gudang bawah tanah. Gudang itu dekat sekali dengan rumahku.
Ternyata dugaanku tepat. Dari atas, terdengar suara orang berlari dan deritan pintu gudang bawah tanah. Terlihat olehku sorotan senter yang mengarah ke mana-mana. Aku terkejut, dan langsung bersembunyi di balik rak besar. Kupadamkan senterku. Tiba-tiba terdengar suara ayah dan ibuku.
”Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Yah,” kata Ibu dari atas.
”Bukan. Ayah mendengar suara orang berteriak jelas sekali,” kata Ayah. ”Jangan-jangan ulah Bunga? Anak itu suka berbuat yang tidak-tidak,”
Jantungku berdegup kencang. Ayah berjalan mendekatiku.
”Manamungkin Bunga. Ibu melihat dia tertidur pulas di kamarnya,” ujar Ibu. Padahal itu adalah guling yang kuselimuti.
”Baiklah kalau begitu. Mungkin hanya perasaan Ayah saja,” tutur Ayah sambil berjalan menjauhiku, dan menutup pintu gudang. Aku menarik nafas lega, dan menyalakan senterku. Untunglah tidak ketahuan, karena aku pasti akan dihukum.
Setelah mencari sakelar lampu dan menyalakannya, akhirnya suasana gudang cukup bersahabat. Kumatikan lagi senterku, kemudian meneliti semua jam yang ada di sana. Mulai dari jam dinding hingga jam yang sudah hancur sudah kuperiksa, namun tak ada sesuatu yang aneh di dalamnya.
Tiba-tiba aku teringat akan jam dinding rusak yang sedang diperbaiki oleh ayahku. Aku berjalan menuju sebuah meja tembat ayahku membetulkan barang-barang yang rusak. Alhasil, kutemukan juga jam itu. Warnanya putih. Setelah jam itu kuperhatikan, ternyata mereknya ’warehouse clock’ juga!
Aku yakin jam ini-lah yang dimaksud oleh Si Penulis Surat. Selang beberapa menit berpikir, akhirnya kuambil obeng dan memutar sekrup-sekrup yang ada di belakang jam. Setelah sekrup-sekrup itu lepas, kubuka penutupnya yang berwarna hitam. Di dalamnya terdapat bermacam-macam mesin kecil.
Namun tiba-tiba, sesuatu yang mengerikan terjadi. Jam itu terasa panas. Akhirnya kujatuhkan, dan tahu-tahu meledak!
Semua mesin dan bagian-bagian jam itu berhamburan ke mana-mana. Aku sangat kaget dan takut, tetapi kucoba untuk tak berteriak. Untung saja ledakan itu tidak terlalu kencang suaranya. Perlahan-lahan asap yang menyelimuti jam itu menghilang. Tiba-tiba muncul sebuah kotak kayu yang pipih di tengah asap itu. Aku mengambilnya, dan kuhancurkan kayu tersebut dengan palu.
Tanpa disangka-sangka, di dalam kayu itu ada sebuah amplop! Aku tersentak tak percaya. Kubuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Ternyata isinya adalah beberapa foto seorang pria tua dengan ratusan jam di sekelilingnya. Mulutku terbuka, mataku melotot. Pria tua itu tersenyum ramah dengan badan kekar. Di sampingnya berdiri seorang wanita muda yang menggunakan topi baret. Aku sangat mengenal wanita itu. Ternyata itu adalah ibuku.
Kini aku mengerti semua teka-teki ini. Foto pria tua itu adalah kakekku sendiri!
Aku menatapnya dalam-dalam. Banyak sekali kerutan di wajahnya. Namun senyumnya begitu hangat, membuatku semakin rindu padanya. Sambil menahan air mata, kubuka sebuah surat yang terselip di antara foto-foto kakekku, dan kubaca isinya perlahan-lahan.
’Cucuku tersayang,
Terimakasih karena kau sudah bersusah payah menemukan surat ini. Jam bermerek Warehouse Clock itu sebenarnya buatan kakek. Jam weker biru dan kotak musik itu adalah hadiah dari kakek untukmu. Kau tak pernah diberitahu orang tuamu, kan? Tentu saja, karena kakek berpesan kepada mereka untuk merahasiakannya, dan membiarkan kau sendiri yang mengupas misteri yang ada di dalamnya. Tapi maaf kalau
jam itu tidak tahan lama. Maklum, kakek membuatnya berpuluh-puluh tahun yang lalu. Tapi jangan khawatir, ayahmu pasti akan memperbaikinya.
Dan jam yang baru saja meledak memang sengaja dibuat kakek. Ayahmu pura-pura memperbaikinya, dan menyimpannya di gudang agar kau mudah menemukannya. Kalau bagian belakang jam itu dibuka, akan langsung meledak, tetapi tidak bagian dalamnya–yaitu kotak kayu yang berisi surat dan foto-foto kakek.
Cucuku, kakek membuat semua ini karena mungkin kakek tak bisa bertemu denganmu ketika kau lahir. Mungkin kakek tak bisa melihat wajahmu. Siapa namamu? Laki-laki atau perempuan, Nak?
Semoga tulisan ini bisa menghilangkan seluruh rasa rindu. Sekarang kau bisa melihat wajah kakek. Jangan bersedih lagi, ya.
Salam,
Kakekmu tersayang.’
Tak terasa air mata menetes membasahi pipiku. Ternyata ini tulisan kakek untukku. Aku benar-benar terharu membacanya. Kupandang foto kakek sambil tersenyum. Ternyata kakekku memang baik.
Terimakasih, Kakek.
* * *
Keesokan harinya, aku bangun pagi sekali–pukul empat subuh. Tak biasanya aku bangun sepagi itu. Aku langsung teringat kejadian semalam dan surat dari kakek. Kenang-kenangan darinya kutaruh rapi di bawah bantal. Nanti akan kuberitahu kepada ayah dan ibu.
Aku turun dari tempat tidur, dan duduk di depan piano. Kuletakkan jari-jariku di atasnya, dan menekan tuts-nya. Sebuah melodi indah kulantunkan dengan sepenuh hati. Aku menarik nafas, dan menyanyikan sebuah lagu sendu yang sejak malam menghantuiku.
’...ninety years without slumbering
Tic toc tic toc
He’s life second numbering
Tic toc tic toc
Is stop, short, never to go again
When the old man died...’
- * -
Bogor 12/11/07
Hasna NKh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar