Selasa, 17 September 2013

Geliat Revolusi di Kenya


Rakyat Kenya menuntut perubahan sistem pemerintahan dengan melakukan beberapa aksi protes secara damai. Salah satu penggagas aksi tersebut adalah Boniface Mwangi (29). Ia beserta beberapa krunya berupaya menyadarkan masyarakat akan situasi politik Kenya melalui coretan grafiti di tembok-tembok Kota Nairobi. Anggota parlemen yang korup digambarkan sebagai burung bangkai. Tak lama, grafiti buatan mereka pun menghias lebih dari 20 kota di Kenya. Tak hanya itu, Boniface dan teman-temannya juga membuat 49 peti mati bergambarkan burung bangkai dan bertuliskan "dosa-dosa" politik pemerintah Kenya. Peti-peti tersebut diangkut para pendemo dan dipamerkan di depan pintu gedung parlemen. Sayangnya, lima belas menit kemudian peti-peti itu diangkut oleh polisi.

 “Kenya adalah salah satu negeri terindah di dunia, tetapi rakyat Kenya pengecut. Kami banyak komplain soal korupsi, kekebalan hukum, dan perampasan lahan, tetapi kami tidak melakukan apa-apa. Jadi kami meninggalkan zona nyaman kami, datang untuk melanggar peraturan (menggambar grafiti-red)  dan mengatakan kebenaran,” ujar Boniface.

Boniface Mwangi di depan hasil karyanya.

Sejak 2009, Boniface yang dulunya adalah seorang jurnalis foto, membuka pameran “Picha Mtaani” yang memamerkan foto-foto kekerasan yang terjadi semenjak Presiden Mwai Kibaki berkuasa dengan tujuan agar rakyat Kenya bisa tergugah untuk melakukan revolusi pada pemungutan suara berikutnya. Dua kandidat presiden terkuat pada pemilu 2013, yaitu Kibaki dan Uhuru Kenyatta sedang menunggu persidangan atas kejahatan terhadap kemanusiaan. Di bawah pemerintahan Kibaki, sekitar satu milyar AS Dollar telah dikorupsi selama 2002-2005. Lebih dari seribu orang terbunuh dan 600.000 orang terpaksa mengungsi semenjak pemilihan kembali Kibaki pada 2007.


Mwai Kibaki dan Uhuru Kenyatta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar