Rakyat Kenya menuntut perubahan sistem
pemerintahan dengan melakukan beberapa aksi protes secara damai. Salah satu
penggagas aksi tersebut adalah Boniface Mwangi (29). Ia beserta beberapa krunya
berupaya menyadarkan masyarakat akan situasi politik Kenya melalui coretan
grafiti di tembok-tembok Kota Nairobi. Anggota parlemen yang korup digambarkan sebagai
burung bangkai. Tak lama, grafiti buatan mereka pun menghias lebih dari 20 kota
di Kenya. Tak hanya itu, Boniface dan teman-temannya juga membuat 49 peti mati bergambarkan burung bangkai dan bertuliskan "dosa-dosa" politik pemerintah Kenya. Peti-peti tersebut diangkut para pendemo dan dipamerkan di depan pintu gedung parlemen. Sayangnya, lima belas menit kemudian peti-peti itu diangkut oleh polisi.
“Kenya
adalah salah satu negeri terindah di dunia, tetapi rakyat Kenya pengecut. Kami banyak
komplain soal korupsi, kekebalan hukum, dan perampasan lahan, tetapi kami tidak
melakukan apa-apa. Jadi kami meninggalkan zona nyaman kami, datang untuk
melanggar peraturan (menggambar grafiti-red) dan mengatakan kebenaran,” ujar Boniface.
![]() |
| Boniface Mwangi di depan hasil karyanya. |
Sejak 2009, Boniface yang dulunya adalah
seorang jurnalis foto, membuka pameran “Picha Mtaani” yang memamerkan foto-foto
kekerasan yang terjadi semenjak Presiden Mwai Kibaki berkuasa dengan tujuan
agar rakyat Kenya bisa tergugah untuk melakukan revolusi pada pemungutan suara
berikutnya. Dua kandidat presiden terkuat pada pemilu 2013, yaitu Kibaki dan
Uhuru Kenyatta sedang menunggu persidangan atas kejahatan terhadap kemanusiaan.
Di bawah pemerintahan Kibaki, sekitar satu milyar AS Dollar telah dikorupsi
selama 2002-2005. Lebih dari seribu orang terbunuh dan 600.000 orang terpaksa
mengungsi semenjak pemilihan kembali Kibaki pada 2007.
![]() |
| Mwai Kibaki dan Uhuru Kenyatta |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar